Skip to main content

Ayah

Aku hanyalah seorang putri kecil 
yang dulu selalu tertawa riang dengan sepeda kecil beroda empat
dan menangis haru saat melihat boneka lucu dilemari toko

Aku... hanyalah seorang putri kecil 
yang dulu selalu mengharap sekotak cokelat
untuk membuat manis seluruh hari-hariku

Aku... hanyalah seorang putri kecil
yang bersinar menerangi dua ruang hati
lalu beranjak remaja hingga dewasa

Aku... hanyalah seorang putri kecil
yang selalu takut dengan sebuah tatapan 
yang menyiratkan amarah dan menyatakan sebuah larangan

Ya... Aku... hanyalah seorang putri kecil
yang dulu selalu berjalan tertatih 
dan bergandeng pada dua tangan untuk menuntunku

Dan kini...
Aku adalah seorang wanita dewasa
yang masih berperan sebagai putri kecil yang tidak dapat berbuat apa-apa

Kini...
Aku adalah seorang wanita dewasa
yang di tangan kiriku menggandeng satu tangan mungil 
yang harus selalu ku jaga dan kurawat
hingga ia dapat berjalan tanpa menggenggam tanganku lagi

Dan kini...
Aku adalah seorang wanita dewasa
yang tangan kanannya juga butuh dipimpin 
untuk membawaku menuju kebahagiaan yang sempurna

Ayah...
Aku adalah putri kecilmu dulu...
namun telah menjadi wanita dewasa...
dengan menggenggam sebuah tangan mungil di sisi kiriku

Ayah...
Izinkan tangan kananku dipimpin oleh seseorang
yang kelak akan meneruskan tugasmu untuk menjagaku...
namun tetap memegang teguh keyakinan
bahwa kau tak kan pernah tergantikan
sebagai pahlawan untuk putri kecilmu ini...

Comments

Popular posts from this blog

Fatamorgana Kehidupan

kata manis tak berujung janji-janji meniup debu asa yang tak berarti dimana ada jalan sepi yang riuh disana pula kobar gemuruh menguak pilu gonjang ganjing mulut pesimis yang optimis menyusun kursi-kursi kehidupan yang fana menyiram rerumputan yang kecil lalu mengobarkan bara dalam semak yang belukar asap-asap picik kehidupan penuh tipu daya seolah tak hiraukan hembusan angin segar dari pegunungan ah... fatamorgana kehidupan yang naif menggunjing nasib anjing di rumah mewah namun tak hiraukan kucing-kucing kelaparan di tepi jalan setan teriak setan namun malaikat hanya dapat duduk menonton tak berdaya... inilah dia dunia yang penuh skenario seperti dalam drama....

Hujan

Rinai hujan masih membasahi rerumputan yang mulai menguning Kering karena terik yang membuat tanah seakan dahaga akan kesejukan banyu yang menyegarkan Aroma embun masih segar terasa Menyeruak masuk hingga ke dalam aortaku Tenang... Damai... Kututup mataku menikmati anugerah Tuhan yang begitu indah Mengistirahatkan kepenatan dalam benak yang berkecamuk Mengukir senyuman di balik rindu akan cinta yang belum menampakkan dirinya